Skill Minimum Anti Nganggur, Mahasiswa Siap Masuk Dunia Kerja dan Bisnis Sebelum Wisuda
Menyiapkan diri menghadapi dunia kerja dan bisnis tidak bisa dilakukan secara instan menjelang wisuda. Mahasiswa perlu membangun skill minimum yang dibutuhkan untuk masuk dunia kerja sejak semester awal hingga semester akhir, sehingga tidak menjadi pengangguran setelah wisuda. Berikut beberapa tips yang diambil dari buku karya dosen Prodi Kewirausahaan UNAIC, Tri Yuwono (2020) dalam bukunya Tips Sukses Kuliah S1, S2 dengan Biaya Sendiri. Beliau 100% kuliah S1 dan S2 biaya sendiri, tidak minta orang tua dan tidak ada beasiswa dari manapun, bahkan beliau bisa nikah sebelum skripsi.
Sejak awal semester kuliah pada jurusan yang mahasiswa pilih, mahasiswa harus sudah mulai memetakan skill minimum apa saja yang dibutuhkan pada dunia kerja dan bisnis terkait juruan kuliah yang ditempuh (liat pada gamabr ada skill warna merah, kuning, hijau, biru dan yang lainnya). Keseluruahan skill tersebut perlu disiapkan dan dicapai per semester, sehingga setelah wisuda mahasiswa sudah memenuhi standar atau kualifikasi yang dibutuhkan di dunia kerja maupun bisnis.
Lulus kuliah, wisuda dengan IPK tinggi saja masih kurang untuk bersaing di dunia kerja dan bisnis. Tidak heran, masih sering kita temukan kasus mahasiswa setelah wisuda malah jadi pengangguran, salah satunya karena mahasiswa tersebut tidak memenuhi standar skill minimum yang dibutuhkan di lapangan (Underqualified).
Sebagai gambaran, contoh bagi mahasiswa Prodi Kewirausahaan di Universitas Al-Irsyad Cilacap pada semester 1 dan 2, mahasiswa perlu membangun fondasi keterampilan dasar seperti komunikasi efektif, manajemen waktu, dan literasi digital. Selain itu, sejak semester awal mahasiswa juga mulai mengejar keterampilan dasar komputer seperti Microsoft Excel, dan beberapa teknologi digital seperti aplikasi canva, aplikasi edit video audio, mendeley, dan e-commerce.
Memasuki semester 3–4, mahasiswa sudah harus mengasah keterampilan analitis dan problem solving. Pada tahap ini, keterampilan presentasi, teamwork, serta kemampuan riset menjadi krusial. Mahasiswa dianjurkan juga melatih skill public speaking, digital marketing dasar, atau bahkan kursus desain grafis. Sertifikasi ini tidak hanya menambah nilai di CV, tetapi juga melatih mahasiswa untuk berpikir kreatif dan adaptif terhadap kebutuhan dunia bisnis yang terus berubah.
Saat memasuki semester 5–6, mahasiswa perlu fokus pada skill praktis yang langsung berhubungan dengan dunia kerja dan bisnis. Pelatihan yang bisa diambil antara lain sertifikasi leadership, konsultan pendamping UMKM, dan kewirausahaan yang biasanya ditawarkan oleh lembaga Badan Nasional Sertifikasi profesi (BNSP). Tahap ini penting karena mahasiswa mulai terlibat dalam magang atau proyek bisnis nyata dilapangan, sehingga sertifikasi akan menjadi bukti kompetensi yang diakui secara profesional.
Menjelang semester akhir hingga wisuda, mahasiswa harus memastikan dirinya memiliki kombinasi soft skills dan hard skills yang lengkap. Sertifikasi lanjutan seperti sertifikasi data analysis, sertifikasi bahasa asing internasional (TOEFL iBT/IELTS resmi), serta sertifikasi kewirausahaan digital akan menjadi modal kuat untuk masuk ke dunia kerja maupun bisnis. Strategi bertahap ini, menjadikan mahasiswa memiliki standar skill minimum yang dibutuhkan dunia kerja dan bisnis yang membuat mereka lebih kompetitif dan terhindar dari risiko pengangguran.
You may also like
Pertimbangan Calon Mahasiswa Agar Tidak Salah Jurusan Kuliah
Memilih jurusan adalah keputusan jangka panjang yang berpengaruh terhadap masa depan, mahasiswa perlu mengenali minat dan bakat, riset jurusan, prospek lulusan, hitung biaya, dan beban finansial sebelum memilih jurusan agar keputusan kuliah lebih tepat dan minim penyesalan. Mahasiswa perlu kenali …
